Mitos Olahraga dan Kesehatan Tulang

Agar mendapatkan manfaat optimal dari olahraga, ketahui dulu kebenaran dari 4 mitos seputar olahraga dan kesehatan tulang:


Mitos #1: Untuk menyehatkan tulang, Anda harus melakukan olahraga high-impact seperti lari dan lompat tali
Fakta: Olahraga high-impact memang disarankan, terutama bagi remaja dan dewasa muda, agar kepadatan tulang yang maksimal dapat tercapai. Tetapi, olahraga high-impact tidak dianjurkan bagi orang yang memiliki risiko patah tulang, karena justru dapat meningkatkan risikonya, terutama pada tulang punggung dan tubuh bagian bawah. Namun, Anda yang tak bisa melakukan olahraga high-impact tak perlu khawatir. Sebab, menurut National Osteoporosis Foundation, olahraga low-impact seperti jalan cepat di treadmill dan latihan menggunakan tali elastis, terutama bila ditambahkan beban, juga dapat bermanfaat dalam menjaga kesehatan tulang.

Mitos #2: Gerakan-gerakan pada yoga dan Pilates terlalu lembut, sehingga tidak bermanfaat besar bagi tulang
Fakta: Gerakan-gerakan pada Pilates dan yoga memang tidak terlalu dinamis seperti olahraga jenis high impact. Namun, Pilates dan yoga, yang termasuk golongan olah raga low impact, juga memberikan beban pada tubuh, sehingga mampu meningkatkan kekuatan otot, kelenturan, dan keseimbangan. Hasilnya, kepadatan tulang dapat tetap terjaga dan risiko mengalami patah tulang dapat diturunkan. Kedua jenis olahraga yang tengah populer di kalangan masyarakat urban ini juga dapat membuat asupan oksigen dan nutrisi lebih lancar ke seluruh sel tubuh, termasuk ke tulang. Bukan hanya itu, yoga juga dapat membuat pikiran dan tubuh lebih relaks, menurunkan kadar kortisol, hormon stres yang dapat menurunkan kepadatan tulang.

Mitos #3: Memulai olahraga di usia lanjut bisa dianggap terlambat, karena tidak akan memberikan manfaat apa pun terhadap kesehatan tulang
Fakta: Idealnya, rutinitas berolahraga dilakukan sedini mungkin, saat usia masih muda dan produktif. Tetapi, bukan berarti orang lansia tidak perlu berolahraga sama sekali. Bagaimanapun juga, olahraga dapat memperlambat proses pengeroposan tulang, termasuk yang disebabkan oleh penuaan. Olahraga juga membuat sendi dan otot lebih kuat, koordinasi tubuh lebih baik dan postur tubuh tetap tegap, sehingga Anda tidak mudah terjatuh.
Namun, jenis olahraga yang dilakukan oleh lansia tentu berbeda dengan yang dipraktikkan oleh orang-orang yang berusia 20-an hingga 40-an. Olahraga seperti tai chi, jalan kaki, dan mengangkat dumbbell ringan, yang dilakukan secara rutin pun cukup baik untuk menjaga kesehatan tulang secara keseluruhan di masa senja.

Mitos #4: Olahraga rutin saja sudah cukup untuk membuat tulang menjadi sehat Fakta: Ilustrasinya kira-kira begini: tubuh dan tulang adalah bangunan, sementara olahraga adalah mesin yang membantu membentuk bangunan itu. Untuk membentuk bangunan yang kokoh, tentu diperlukan bahan-bahan pembentuk yang tepat. Nah, bahan-bahan pembentuk tulang kuat di antaranya asupan nutrisi seperti protein dan mineral (kalsium, vitamin D, magnesium, dsb.). Tanpa asupan nutrisi yang tepat, upaya menyehatkan tulang pun tidak akan berjalan maksimal.

Referensi:

http://www.webmd.com/osteoporosis/features/exercise-weight-bearing#1
https://www.betterbones.com/exercise/exercise-and-bone-health/
http://www.healthybonesaustralia.org.au/how/exercise/

AUG,8th,2018
Artikel Terkait