Siapa Berisiko Osteopenia?

Osteopenia adalah istilah yang biasa digunakan oleh dokter untuk menggambarkan kepadatan tulang yang rendah. Orang dengan kondisi osteopenia memiliki tulang lebih lemah daripada yang normal.

Orang yang mengalami osteopenia bisa saja tidak mengalami kehilangan massa tulang. Secara alami, kepadatan tulang mereka memang lebih rendah. Namun, lemah saja tidak cukup untuk kemudian dikategorikan sebagai osteoporosis.

Biasanya, tidak ada penyebab tunggal untuk osteopenia. Proses penuaan menjadi faktor risiko paling umum untuk terjadinya osteopenia. Setelah puncak massa tulang terlewati, tubuh merombak tulang lebih cepat daripada membentuk tulang baru. Artinya, orang yang mulai berusia lanjut akan kehilangan kepadatan tulang.

Faktor Risiko Osteopenia

Perempuan cenderung lebih berisiko mengalami osteopenia dibandingkan pria. Tak lain karena perempuan memiliki puncak kepadatan tulang lebih rendah dan kehilangan massa tulang yang dipercepat saat menopause.

Sejumlah orang memiliki kemungkinan lebih besar mengalami osteopenia karena kesehatan tulang yang tidak terlalu baik, yang diturunkan dari keluarganya. Kondisi kesehatan serta pemakaian obat-obatan juga bisa memengaruhi risiko tersebut. Sebagai contoh, osteopenia lebih sering terjadi pada mereka dengan penyakit celiac (alergi gluten dan gandum) dan pada orang yang mengonsumsi obat glucocorticoid (steroid) untuk jangka waktu lama.

Selain itu, berat badan rendah juga menjadi faktor risiko penting. Osteopenia kadangkala ditemui pada atlet perempuan muda atau mereka dengan gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia. Sementara itu, gaya hidup tidak sehat dan tidak cukup bahan pembentuk tulang sehat seperti kalsium, vitamin D, dan olahraga, akan meningkatkan risiko munculnya osteopenia. Sayangnya, osteopenia tidak memiliki gejala khusus. Seseorang tidak akan tahu kalau dirinya memiliki masalah tersebut hingga mengalami patah tulang setelah tergelincir atau terjatuh. Ketika ini terjadi, artinya ia sudah mengalami osteoporosis.

Meski tidak setiap osteopenia akan berkembang menjadi osteoporosis, peluang untuk terjadinya pengeroposan tulang bisa meningkat pada mereka yang mengalami osteopenia. Oleh sebab itu, jika memiliki faktor risiko untuk terjadinya osteopenia, ada baiknya segera menghubungi dokter.

Agar Tak Menjadi Osteoporosis

Dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan tes kepadatan tulang. Tes ini akan mengukur kepadatan tulang di panggul dan tulang belakang. Hasil tes akan memperlihatkan kondisi kepadatan tulang yang normal, berkurang ringan (osteopenia), atau sudah mengalami osteoprosis.

Bila hasilnya memang positif osteopenia, akan dilakukan penanganan dengan tujuan mencegahnya berkembang menjadi osteoporosis. Perbaikan diet dan gaya hidup akan berpengaruh besar terhadap kekuatan tulang.

Memangkas asupan alkohol, berhenti merokok, rutin berolahraga, dan pemberian suplemen kalsium maupun vitamin D, akan membantu menjaga kekuatan tulang dan mengurangi risiko lebih lanjut untuk osteoporosis. Dokter biasanya tidak meresepkan obat, kecuali kondisi osteopenia yang dialami sudah sangat dekat dengan osteoporosis.

Referensi:

http://www.webmd.com/osteoporosis/tc/osteopenia-overview
http://www.healthline.com/health/osteopenia
https://www.osteoporosis.org.au/sites/default/files/files/Osteopenia%20Factsheet.pdf

AUG,8th,2018
Artikel Terkait