Mitos dan Fakta Seputar Osteoporosis

Osteoporosis telah menyerang jutaan orang di dunia. Lewat diet, pola hidup sehat, olah raga, konsumsi suplemen, dan terapi obat, sesungguhnya osteoporosis dapat dicegah. Namun demikian, seiring dengan melimpahnya informasi tentang penanganan osteoporosis, masih banyak pula mitos atau kesalahpahaman yang beredar.

Mitos: Osteoporosis hanya menyerang perempuan

Fakta: Meski kasus osteoporosis lebih banyak menyerang perempuan, namun pria juga bisa terkena osteoporosis. Mengutip spineuniverse.com, di Amerika Serikat diperkirakan hampir 2 juta pria menderita osteoporosis, dan masih ada 3 juta lainnya yang berisiko. Mereka dapat mengalami patah pada panggul, tulang belakang, pergelangan tangan, dan tulang lainnya.

Mitos: Osteoporosis hanya bisa terjadi pada orang-orang lanjut usia

Fakta: Osteoporosis pada anak dan remaja bisa terjadi, meski sangat jarang ditemukan. Menurut catatan pada situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia, osteoporosis pada anak terjadi akibat adanya penyakit lain atau karena penggunaan obat tertentu. Contoh penyakit lain yang dimaksud antara lain rematik di usia muda, adanya kelainan genetik pada tulang, diabetes, dll. Selain itu, anak yang sedang menjalani pengobatan penyakit tertentu, seperti kanker, epilepsi, dan penggunaan obat-obatan kortikosteroid, juga berisiko mengalami osteoporosis. Malnutrisi hebat pun merupakan salah satu penyebab osteoporosis pada anak.

Mitos: Osteoporosis hanya menyerang perempuan yang sudah menopause

Fakta: Hilangnya hormon estrogen memang memberikan andil pada melemahnya tulang perempuan. Namun, ada sejumlah kondisi lain yang juga dapat membuat seorang perempuan berisiko terhadap osteoporosis bahkan sebelum fase menopause, seperti berat badan kurang (terlalu kurus), menderita celiac disease (penyakit gangguan pencernaan yang bereaksi negatif terhadap gluten), memiliki siklus haid tidak teratur, gizi buruk, atau menggunakan obat steroid.

Mitos: Osteoporosis pasti dialami oleh orang-orang lansia

Fakta: Tubuh membungkuk, patah tulang punggung, atau kesakitan akibat fraktur bukanlah kondisi yang mutlak harus dialami oleh setiap orang lanjut usia (lansia). Jika pola hidup sehat dibangun sedari muda, kasus osteoporosis pada kalangan lansia pun dapat dikurangi.

Mitos: Osteoporosis tak dapat disembuhkan

Fakta: Yang sering disarankan dalam kasus osteoporosis adalah pencegahan. Namun, bukan berarti masalah ini tak bisa diobati. Kini terdapat berbagai macam obat yang dapat membantu menguatkan tulang dan meningkatkan densitasnya. Selain itu, tentu perlu dibarengi dengan olah raga yang tepat, serta konsumsi suplemen pendukung untuk membantu mencegah kerusakan tulang lebih lanjut.

Referensi:

https://www.spineuniverse.com/conditions/osteoporosis/myths-misconceptions-about-osteoporosis
www.healthline.com/health-slideshow/what-is-osteoporosis
www.webmd.com/osteoporosis/guide/common-myths-about-osteoporosis-risk-factors

AUG,8th,2018
Artikel Terkait