Kenapa Perempuan Rentan Osteoporosis?

Salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis yang tidak dapat dimodifikasi adalah jenis kelamin sebagai perempuan. Ya, kaum hawa memang tergolong rentan terhadap penyakit yang dijuluki the silent disease ini. Selain karena tulang perempuan lebih tipis dan ringan dibandingkan pria, mereka juga mengalami menopause.

Ketika memasuki masa menopause, kadar hormon estrogen yang berfungsi melindungi tulang menurun tajam, menempatkan perempuan pada risiko besar untuk pengeroposan tulang. Apalagi, harapan hidup mereka lebih panjang dibandingkan pria. Faktanya, perempuan empat kali lebih sering mengalami osteoporosis dibandingkan kaum adam.

Cleveland Clinic menyebutkan bahwa ada hubungan langsung antara kurangnya estrogen setelah menopause dengan munculnya osteporosis. Setelah menopause, perombakan (resorpsi) tulang akan mengambil alih pembentukan tulang baru. Mereka yang mengalami menopause dini (sebelum usia 45 tahun) maupun yang mengalami haid tidak beraturan, memiliki kadar hormon estrogen yang rendah dan bisa menyebabkan kehilangan massa tulang.

Pengaruh Kehamilan

Selain menopause, hal yang juga dikhawatirkan dapat membuat massa tulang menurun adalah saat seorang perempuan hamil dan menyusui. Di masa kehamilan, janin membutuhkan banyak kalsium untuk membentuk tulangnya. Kebutuhan ini sangat besar terutama di tiga bulan terakhir masa kehamilan. Bila ibu tidak mendapat cukup asupan kalsium, maka janin akan mengambil kebutuhannya dari tulang ibu.

Kebanyakan perempuan saat hamil dan menyusui memang tidak dalam kondisi cukup kalsium. Untungnya, kehamilan membantu melindungi cadangan kalsium pada calon ibu dengan beberapa cara. Ibu hamil menyerap kalsium dari makanan dan suplemen dengan lebih baik dibandingkan yang tidak hamil. Hal ini terutama terlihat di setengah periode akhir kehamilan, ketika bayi berkembang dengan cepat dan memilki kebutuhan kalsium yang cukup banyak.

Menariknya, kebanyakan perempuan nyatanya tidak mengalami masalah pada tulangnya saat hamil maupun menyusui. Ini karena selama hamil, perempuan menghasilkan lebih banyak hormon estrogen yang melindungi tulang.

Sejumlah studi, antara lain yang berjudul Effect of Pregnancy on Bone Mineral Density in Health Women, menunjukkan bahwa kehamilan baik bagi kesehatan tulang secara menyeluruh. Bahkan disebutkan pula, lamanya waktu seorang perempuan hamil (setidaknya 28 minggu) membuat kepadatan tulangnya dan risiko frakturnya semakin rendah. Kalaupun ada massa tulang yang berkurang selama hamil, biasanya akan kembali pulih beberapa bulan setelah bayi lahir.

Pengaruh Menyusui

Periode lain yang juga memengaruhi kondisi tulang perempuan adalah saat menyusui. Studi menunjukkan bahwa perempuan kerap kehilangan 4-6 persen massa tulangnya selama menyusui. Kehilangan massa tulang ini bisa disebabkan oleh kebutuhan kalsium pada bayi yang meningkat dan diambil dari tulang ibunya.

Di sisi lain, kehilangan massa tulang selama menyusui juga karena kurangnya produksi estrogen. Berita baiknya, seperti halnya massa tulang yang berkurang saat hamil, kehilangan massa tulang saat menyusui biasanya akan pulih dalam waktu enam bulan setelah berhenti menyusui.

Meskipun kondisi tulang akan kembali seperti sedia kala setelah persalinan maupun berhenti menyusui, tak ada salahnya untuk tetap menjaga kesehatan tulang. Selain melakukan olahraga dan menjalani gaya hidup sehat, pastikan untuk memenuhi kecukupan kalsium. Perlu diingat, tubuh memerlukan kalsium lebih banyak selama hamil dan menyusui guna memenuhi kebutuhan bayi dan bayi. Sebagai rekomendasi, ibu hamil atau menyusui mengasup 1.000 mg kalsium per harinya.

Referensi:

https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/osteoporosis
http://www.webmd.com/menopause/guide/osteoporosis-menopause#1
https://my.clevelandclinic.org/health/articles/menopause-and-osteoporosis
https://www.niams.nih.gov/Health_Info/Bone/Bone_Health/Pregnancy/default.asp
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11832786
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4266784

AUG,8th,2018
Artikel Terkait