Mitos Tulang Sehat

Memiliki tulang sehat dan kuat hingga usia lanjut adalah idaman setiap orang. Sayangnya, masih ada sejumlah mitos yang membuat orang keliru dalam upaya menjaga kesehatan tulangnya.


Mitos: Tulang bersifat statis
Fakta: Tulang merupakan organ hidup yang terus berubah dengan merombak dan mengganti dirinya. Sebanyak 206 tulang yang membentuk kerangka tubuh, secara keseluruhan diperbarui dan diganti setiap 7-10 tahun. Proses ini dikenal sebagai remodeling. Remodeling tulang penting untuk memperbaiki fraktur yang sangat kecil dan menggantinya dengan jaringan tulang baru yang baik serta sehat. Remodeling juga memungkinkan tulang berhadapan dengan banyak tekanan, sehingga kemudian menjadi lebih kuat.

Mitos: Tulang berhenti tumbuh saat tua
Fakta: Tulang tetap mengalami perubahan, tetapi biasanya berhenti tumbuh saat dewasa muda (akhir usia 20-an). Saat usia menua, tulang akan berkurang kepadatannya sehingga menjadi tipis dan lebih rentan mengalami patah. Kesehatan dan kekuatan tulang bisa dibantu dipertahankan dengan pola hidup sehat, cukup asupan mineral pembentuk tulang, dan olahraga.

Mitos: Tulang dan otak tidak saling berhubungan
Fakta: Tulang dan otak nyatanya saling berhubungan. Orang-orang yang mengalami gangguan belajar, gangguan pemusatan perhatian, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif, bisa jadi terkait dengan kualitas kesehatan tulangnya. Kalsium, yang diketahui menjadi komponen mineral pembentuk tulang, bersama dengan magnesium bertanggung jawab terhadap kualitas dari fungsi otak. Kalsium juga berinteraksi dengan kalium serta sodium untuk menyeimbangkan aktivasi dan inaktivasi impuls saraf di otak. Sementara, zink adalah mineral terpenting ketiga pada otak yang menyalakan reseptor elektrokimia.

Mitos: Hanya perlu kalsium untuk mendapatkan tulang kuat
Fakta: Kalsium saja tidak cukup. Tulang perlu mineral lain seperti vitamin D yang membantu penyerapan kalsium ke dalam tulang. Mineral lain yang juga diperlukan di antaranya vitamin K, strontium, boron, zink, vitamin B12, likopen, juga minyak ikan. Kemudian, tulang juga membutuhkan protein, yang menjadi kerangka dasar pembentukan tulang.

Mitos: Cukup konsumsi susu dan kalsium untuk mencegah osteoporosis
Fakta: Gaya hidup sehat tetap perlu diterapkan. Artinya, selain mengonsumsi susu dan kalsium, Anda juga perlu menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, tidak merokok, menjaga berat badan ideal, dan rutin berolahraga. Olahraga yang dilakukan adalah yang memberi pembebanan pada tulang seperti jalan kaki maupun latihan beban. "Dengan olahraga pembebanan, tak hanya tulang saja yang dilatih tetapi juga otot. Menjaga otot tetap kuat akan mencegah kejadian jatuh dan tulang patah," ujar Susan William, MD., spesialis metabolik dan penyakit dalam seperti dilansir Cleveland Clinic. Di sisi lain, perlu pertimbangan hal lain terkait faktor-faktor yang memengaruhi osteoporosis seperti riwayat keluarga dengan patah tulang akibat osteoporosis, terapi glukokortikoidj angka panjang, kondisi medis seperti penyakit celiac atau Crohn yang menghambat penyerapan nutrisi, hypogonadism, serta menopause dini.

Mitos: Hanya perempuan berusia lanjut yang bisa mengalami osteoporosis
Fakta: Osteoporosis bisa terjadi pada pria dan siapa pun di usia muda. Osteoporosis memang menjadi hal yang paling umum terjadi pada perempuan berusia di atas 65 tahun. Meski demikian, osteoporosis juga dapat terjadi pada pria maupun perempuan yang berusia lebih muda. Perempuan yang mengalami menoapuse lebih cepat berisiko osteoporosis. Begitu pula mereka yang mengonsumsi obat-obatan steroid jangka panjang, pengencer darah tertentu, obat antikejang, atau obat-obatan untuk mengatasi gangguan refluks asam.

Referensi:

http://www.webmd.com/osteoporosis/brittle-bone-breaks-15/rm-quiz-bones-myths-facts
http://www.jointessential.com/5-common-myths-on-building-strong-bones/
https://health.clevelandclinic.org/2012/05/7-myths-about-calcium-vitamin-d-and-healthy-bones/
http://www.besthealthmag.ca/best-you/health/5-myths-about-osteoporosis/

AUG,8th,2018
Artikel Terkait